Amal Orang Mati Diperlihatkan kepada Keluarganya yang Mati Lebih Dahulu


An-Nasa’i meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda antara lain: “Maka para malaikat itu membawa nyawa orang mati menemui arwah kaum muslimin. Maka sungguh, mereka amat gembira, melebihi seseorang dari kamu sekalian ketika kedatangan keluarganya dari rantau. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa yang dilakukan Fulan?’ ‘Apa yang dilakukan fulanah?’ lalu mereka katakan pula, ‘Biarkanlah dia, sesungguhnya dia masih sedih mengingat dunia.’”

“Dan ketika nyawa itu balik bertanya, ‘Bukankah fulan itu telah datang kepada kalian?’ roh-roh itu menjawab, ‘Rupanya dia dibawa ke ibunya, Hawiyah.’” (demikian seterusnya Abu Hurairah menyebutkan hadits ini yang selengkapnya akan kita temui di lain bahasan, insya Allah)

At-Tarmidzi al-Hakim meriwayatkan dalam Nawadir al-Ushul, telah bercerita kepada kami, ayahku dari Qubaishah, dari Sufyan, dari Abban Abi Iyasy, dari Anas ra dia berkata, sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya amal-amal kamu sekalian diperlihatkan kepada keluarga dan kerabat-kerabatmu yang telah meninggal. Jika amalmu baik, mereka senang. Dan jika tidak, maka mereka berkata, ‘Ya Allah, jangan matikan mereka sebelum Engkau tunjuki mereka kepada apa-apa yang Engkau tunjuki kami.’”

Isnadnya dlaif jiddan: Abban bin Abi Iyasy, haditsnya matruk. Al-Albani menyebut hadits ini dalam adh-Dha’ifah [863], dengan menisbatkan kepada Ahmad, dari jalur Sufyan, dari seseorang yang mendengar Anas bin Malik meriwayatkannya secara marfu’. Kemudian al-Albani mengatakan, “Ini adalah sanad yang dlaif, karena perantara antara Sufyan dan Anas tidak diketahui [majhul], tapi tokoh-tokoh sanad selebihnya adalah tsiqah.

Imam Syamsuddin al-Qurthubi mengatakan: Boleh jadi syekh al-Albani ra. belum menelaah jalur sanad yang digunakan at-Tirmidzi al-Hakim, dimana disebutkan perantara yang dimaksud, yaitu Aban, sebagaimana telah disebutkan tadi. Sementara al-Albani dalam ash-Shahihah [2757] menyatakan kepastiannya dengan mengutip hadits ini ke dalam ash-shahihah, setelah mengetahui sanad yang shahih, yang mauquf pada Abu Ayub al-Anshari, kemudian dia dijadikan sebagai syahid bagi hadits ini. Barangkali syekh al-Albani memastikan seperti ini, karena illat pada hadits hanya berupa inqitha’ [keterputusan] saja antara Sufyan dan Anas. Tetapi setelah kami mengetahui siapa yang digugurkan, dan ternyata orangnya matruk, maka sanad ini tergolong yang tidak bisa meningkat menjadi kuat. wallaaHu a’lam.

At-Tirmidzi meriwayatkan pula sebuah hadits dari Abdul Ghafur bin Abdul Aziz, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, Sabda Rasulullah saw.: “Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis kepada Allah. Dan diperlihatkan kepada para Nabi, bapak-bapak, dan ibu-ibu pada hari Jum’at. Maka mereka gembira dengan kebaikan-kebaikan orang-orang yang ditinggalkan, dan wajah-wajah mereka semakin putih berseri. Oleh karena itu, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, hai hamba-hamba Allah. Janganlah kamu sakiti keluargamu yang telah mati dengan perbuatan-perbuatanmu.” (maudlu’: dlaif al-jami’ [2446] dan adh-Dhaifah [1480] karya al-Albani ra. tetapi separo bagian pertama hadits ini, yaitu yang berkaitan dengan diperlihatkannya amal kepada Allah pada hari Senin dan kamis, adalah tsabit, terdapat dalam shahih Muslim)

Dan ada yang berpendapat mengenai sabda Nabi saw.: “Roh-roh itu bagaikan balatentara yang dikumpulkan. Roh-roh yang saling mengenal, bersatu. Dan yang tidak saling mengenal berpisah.” (Shahih Muslim [2638])

Bahwa yang dimaksud pada hadits ini adalah pertemuan sebagaimana tersebut di atas. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah pertemuan antara roh orang yang tidur dengan roh orang yang telah meninggal. Dan ada pula yang berpendapat lainnya. wallaaHU a’lam.