by: Al iz Kusuma
Hari ini terasa singkat sekali. Tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul setengah dua siang. kenapa aku bisa lupa ya kalau jadwal
kuliahku di majukan jadi pukul 2 siang sekarang. Jadi gugup, belum makan,
mandi, sholat, cuci motor. Semua aku kerjakan dengan tergesa-gesa agar tidak
telat nanti sampai ke kampus.
1 jam berlalu aku sudah sampai kampus dan mengikuti beberapa
mata kuliah. Beranjak dari halaman kampus aku berniat untuk pulang saja karena
semua mata kuliah hari ini sudah selesai. Baru jam 17.45 sholat magrib di
masjid waktu pulang aja batinku.
Aku mulai mengendarai motorku dengan kencang karena kudapati
langit semakin gelap dan rintik-rinrik air mulai membasahi kaca helm. Kontan
laju motorku pun semakin aku kencangkan agar tidak kehujanan karena aku tidak
bawa jas hujan dan rumah masih jauh.
Baru saja aku berfikir begitu hujan sudah turun dengan sangat
derasnya hingga bajuku pun basah kuyup. Yang terlintas di fikiranku hanyalah
mencari tempat berteduh paling dekat dan tak kuduga mataku tertuju pada sebuah
balai yang berada ditepi jalan dengan beberapa orang yang telah berteduh disana
mendahuluiku.
Langsung saja motorku kuparkirkan di halamanya. Dingin sekali
sore ni, sudah hujan anginya kencang pula. Aku pun berusaha menghangatkan
tubuhku dengan Menggosokkan kedua tanganku. Lama sudah aku menunggu, tapi hujan
tak kunjung reda hingga waktu sudah menunjukkan pukul 18.40 kontan aku pun
tersadar kalau aku belum sholat magrib tadi.
Tuhan.. maafkan aku. Maka dari itu kenapa seperti ada yang
mengganjal di batinku yang aku pikir dari tadi tidak kunjung ingat juga.
Bingung lagi deh mau sholat dimana ini? waktu magrib sudah akan habis, hujan
turun dengan sangat deras sekali. Aku menengokkan kepalaku jauh ke ujung jalan
berharap ada mushola di dekat sini. Tapi sejauh mata memandang tidak ada satu
pun mushola atau masjid yang terlihat.
Tak lama kemudian aku mulai duduk dan
melihat aktifitas orang di sampingku yang melihat-lihat seperti aku tadi. Jenuh
rasanya berteduh lama begini. Jadi aku pun merebahkan tubuhku di lantai balai
tersebut. Saat aku merebahkan tubuhku ke lantai, aku baru sadar kalau balai itu
bersih juga. Kenapa tidak terfikirkan sholat di sini saja. Balai ini bersih dan
eang tidak ada seorang pun yang berteduh disi yang memakai alas kakinya
memasuki balai ini, karena kami cuma duduk di samping-samping saja.
Lalu aku
pun mengambil air wudhu dengan air hujan yang turun dengan deras dari pipa
genteng tanpa memperdulikan orang-orang di sampingku yang semenjak tadi
memperhatikanku saja. Peduli amat, kenal juga tidak. Aku pun memakai jaket-ku
yang agak basah untuk kupakai sebagai alas dan aku sholat sendiri membelakanngi
orang-orang yang sedang berteduh, yang semakin lama semakin banyak karena hujan
tak kunjung reda.
Ku coba mengkhusukkan sholatku dalam dinginya angin malam
yang membuat tubuhku menggigil. Hari mulai gelap dan suara hujan terdengar
bising sekali. Usai raka’at pertama konsentrasiku terganggu oleh seseorang yang
menepuk pundak kananku. Aku jadi bingung apa maksud dari orang itu, apakah
orang itu mau mencegahku, mengingatkanku, ataukah hendak ikut sholat di
belakangku?. Dan pertanyaanku terjawab dengan sebuah tepukan lagi. Aku yakin
orang ini hendak ikut sholat di belakangku.
Akhirnya aku pun mengubah niatku
menjadi seorang imam dan mengeraskan baca’anku. Dua rakaat terakhir pun usai
dan aku mengucap salam.
Setelah itu aku berdo’a agar hujan cepat reda dan aku bisa
pulang dengan selamat, karena hujan kali ini mengerikan sekali.
Sembari mengusap wajahku setelah berdo’a aku memalingkan
badan untuk sekedar berjabat tangan dengan dua orang yang ikut sholat bersamaku
tadi. Aku pun kaget seakan tidak percaya kalau ternyata orang yang ikut sholat
di belakangku bukan hanya dua orang, akan tetapi ada 19 orang. Di atas
keherananku aku sangat merasa bahagia bisa menjadi imam sholat disaat dan
dikondisi seperti itu.
Tawa kecil terbesit di hatiku seakan tidak percaya. aku
pun menyalami beberapa orang di belakangku sambil kembali kearah motorku
terparkir. kotor sekali motorku karena kehujanan. Seakan Tuhan mengabulkn
permohonanku secara cash, hujan pun seketika itu reda.
Senang sekali akhirnya bisa segera pulang, sudah jenuh disi
menunggu terlalu lama. Aku pun perlahan membersihkan dan memakai sepatuku yang
lusuh dengan tanah.
“habis kuliah ya mas?” aku menoleh dan mencari sumber suara
dari kerumunan orang itu. “Iya mas” jawabku dengan tersenyum pada orang yang
sedang memakai jaket basahnya. “kuliah dimana mas?” tanyanya lagi.
“Di ******
mas” jawabku dengan singkat. “loh kok sama, aku juga kuliah disana, tapi sudah
lulus. aku pun mengurungkan niatku untuk pulang sejenak dan melanjutkan
obrolnku dengan orang tadi. Obrolan kita yang berlanjut begitu lama hingga
berganti dengan canda’an bersama orang yang lain hingga malam pun tiba. Dan
kami mulai beranjak pergi dari balai bersama-sama dengan lambaian tangan yang
tinggi serta senyuman.
Seperti ada ikatan emosional yang terbentuk begitu saja,
entah apa itu namanya aku tak mengerti..