Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian VI


VI Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian VI

Perang Brata Yuda


Perang Brata Yuda adalah sebagai lambang manusia sejati dalam berjuang untuk menjadi manusia yang mendapatkan pencerahan dari Tuhan, yaitu Panunggaling Kawula Gusti, dengan jalan menguasa Jagad Kecil.

Para senopati Ngastina harus dikalahkan, sebab sebagai penghalang yang sangat besar dalam upaya mencapai kesempurnaan hidup. Senopati yang harus dikalahkan, yaitu: 1. Resi Bisma, lambang rasa takut, kuatir, dsb. 2. Resi Drona, Lambang angan-angan, pikiran, ripta, yang selalu menutup-nutupi kenyatan. 3. Adipati Karna, lambang angkara. 4. Prabu Salya, lambang ingsun. 5. Suyudana, lambang murka, rasa harus memiliki apasaja yang disenangi hanya untuk kesenangan diri.


1. Bisma

Di depan telah disampaikan bahwa Bisma lambang dari rasa takut, kuatir, dan sejenisnya. Padahal dengan adanya rasa takut, kuatir, tidak bakalan ada cita-cita apaun yang akan dapat dicapai dengan sempurna. Sifat takut dan kuatir sangat sulit untuk dikuasai atau dihilangkan, sebab manusia hidup molai lahir telah dikuasai oleh rasa takut.

Jika saya bertindak begini, nantinya akan menjadi ………………….! Begitu seterusnya. Yang pada akhirnya manusia akan selalu kuatir dalam menghadapi kehidupan, yang barangkali tidak menyenangkan bagi dirinya. Manusia kebanyakan merasa takut akan tidak mendapatkan rizki, takut pada kegelapan, takut pada tempat angker, takut pada mayat, takut pada hantu dan seterusnya. Yang takut pada kehidupan malah bunuh diri.

Pada jaman dahulu, usaha untuk menghilangkan rasa takut dengan jalan latihan dengan melakukan tirakat di tempat yang sepi ataupun tempat angker, ataupun dalam hutan, di puncak-puncak gunung, di petilasan-petilasan dan lain-lain.

Manusia yang telah berhasil menguasai rasa takut yang selanjutnya bisa menguasai rasa sedih dan susah, hidupnya banyak tentramnya, sebab telah mendapatkan pengayoman dari Tuhan-nya. Dalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan: Inna aladzina amanu wa amilu sholihatin, ajruhun inda robbihim laa khaufun alaihim wa laa hum yahzanuna.

(Wong-wong kang padha gede imane, lan tansah gawe becik, ganjarane kepareng ana ing ngarsane Pangerane, Mula ora padha kadunungan rasa was-sumelang lan wedi, lan uga ora kadunungan rasa susah lan sedhih. Manusia yang demikian telah mampu melampaui rasa takut, kuatir dan juga tidak mempunyai rasa susah dan sedih, hidupnya telah berada di Sorga, walaupun masih hidup di dunia. Bisa mengalahkan Bisma telah bisa mengalahkan ciptanya (perasaannya).


2. Drona

Drona menjadi lambang ripta yaitu pikiran. Bisa mengalahkan Drona berarti telah mampu mengendalikan pikiran. Manusia yang mempunyai cita-cita untuk mencapai kesempurnaan hidup sebagai langkah awal harus bisa menguasai perasaan dan pikiran yang selalu mengendalikan jiwa manusia, yang kemudian keluar menjadi tindakan, perbuatan ataupun amal. Padahal setiap amal menentukan nasib. Manusia hanya mendapatkan buah dari tindakannya. Bisa menguasai tindakan berarti bisa menguasai nasib diri.

Apabila Drona mendapat jabatan sebagai lambang pikiran atau Ripta, semakin jelas dari cerita berikut:

Pada suatu hari, ketika masih hidup bersama di Kraton Ngastina, para Kurawa dan Pandhawa sedang bermain, main sepak bola. Bola itu bulat. Disentuh sedikit aja akan berubah tempatnya. Sehingga pada cerita ini, bola sebagai lambang dari segala yang mudah berubah, yaitu keduniaan. Bola tadi secara tidak sengaja masuk ke dalam sumur yang sangat dalam.

Artinya, apa saja yang menjadi cita-cita tidak gampang mencapainya. Para Kurawa dan Pandhawa hanya bisa termangu-mangu di pinggir sumur, tidak tau harus berbuat apa. Keadaan yang demikian, diketahui oleh seorang Pandhita. Pandhita tersebut sanggup mengeluarkan bola dari dasar sumur, apabila para Kurawa dan Pandhawa bersedia menyampaikan kepada Prabu Drestarata, agar Pandhita ini diangkat menjadi guru Para Kurawa dan Pandhawa. Permintaan Pandhita tersebut disetujui oleh Para Kurawa dan Pandhawa.

Kemudian Sang Pandheta mengeluarkan gendewanya. Bola yang berada di dasar sumur di panah menggunakan batang rumput. Pucuk dari batang rumput menancap di bola. Pandhita tadi memanah lagi menggunakan batang rumput. Pucuk batang rumput kedua menancap pada pangkal batang rumput pertama. Pucuk batang rumput dibelakangnya menancap pada pangkal batang rumput yang mendahuluinya.

Akhirnya batang rumput yang terakhir bisa dipegang. Batang rumput yang saling menyambung, kemudian ditarik ke atas sehingga bola bisa diangkat dari dalam sumur. Itulah awal mula Pandhita Drona menjadi gurunya pada Kurawa dan Pandhawa.

Dongeng tersebut di atas jelas sebagai perlambang, bahwa batang rumput yang saling menyambung, tidak lain adalah urut-urutan tindakan yang harus dilalui pada saat manusia harus menyelesaikan pekerjaan yang rumit. Ini menunjukan hasil pekerjaan pikiran atau nalar.

Sehingga, sekali lagi bahwa Drona sebagai lambang pikiran, yang pada akhirnya menjadi nalar. Sehingga orang hidup di dunia sebaiknya mengutamakan nalar sebagai gurunya. Jangan sampai hanya mengandalkan perasaan atau emosinya saja. Atau hanya menuruti kehendak raga-nya saja, tanpa mendengarkan suara dari pikiran.


3. Karna

Karna sebagai lambang angkara. Bisa mengalahkan Karna berarti bisa menguasai angkaranya. Angkara berujud dari berkumpulnya raga, cipta (perasaan) dan ripta (pikiran), Tanpa raga, manusia biasa tidak akan bisa mempunyai kesadaran atau menyadari keadaan dirinya.

Demikian juga tanpa cipta ataupun tanpa ripta. Sesungguhnya angkara hanya sebagai bayangan dari manusia sejati, yaitu dari diri yang mempunyai raga, cipta dan ripta.

Angkara dan manusia sejati tidak akan bisa bersamaan sebagai penguasa dalam Jagad Kecil. Sehingga apabila manusia sejati berkehendak menjadi raja dalam diri yaitu dalam jagad kecil, maka harus bisa menguasai angkaranya. Harjuna sebagai wakil dari Yudhistira harus bisa mengalahkan Karna.


4. Salya

elah diterangkan bahwa Salya sebagai lambang dari Ingsun. Walau Ingsun berada pada alam jiwa, tingkatannya lebih tinggi dari Angkara, sehingga selama ingsun masih berkuasa, Panunggaling Gusti tidak bakal sempurna. Gugurnya Salya (Ingsun) dari kekuasaan Yudhistira (Hidup sejati) melambangkan sempurnanya Panunggaling Kawula Gusti, bagaikan setetes air yang jatuh ke dalam samudra.

Dalam perang tanding antara Karna (Angkara) melawan Harjuna (wakil Yudhistira, wakil dari manusia sejati), kereta perang Karna disetir oleh Salya (angkara dilindungi oleh ingsun), Kereta perang Harjuna (wakil Yudhistira – urip sejati) disetir oleh Kresna, lambang Pangeran atau Allah.


5. Duryudana

Masih ada satu lagi unsur hidup yang harus dihilangkan agar panunggaling Kawula Gusti bisa sempurna, yaitu Murka (Duryudana) yang sebagai sumber dari rasa ingin menguasai atau memiliki. Apabila rasa ingin menguasai segala ujud yang ada di dunia ini belum disirnakan, bisa berakibat fatal.

Sebagai contoh, cerita Bagawan Wisrawa, berobah sifatnya menjadi Dasamuka setelah menikahi Dewi Sukesi (lambang keadaan dunia). Makna Sukesi adalah segala yang menyebabkan rasa senang, Suka apabila dilihat (deneksi), yaitu dunia ini, sebagai tumbuh berkembangnya Angkara Murka.

Keterangan bab Panunggaling Kawula Gusti tersebut di atas, bisa tercapai, ketika manusia agung telah meninggal dunia, ataupun pada saat manusia sempurna telah lulus dalam melaksanakan Samadi. Apabila keterangan-keterangan tersebut dihubungkan dengan ketika manusia sempurna telah lulus dari Samadinya’ tentulah para senapati Kurawa Ngastina, tidak harus disirnakan, namun hanya tidak diberi kesempatan saja.

Sebab, selama manusia masih berada di dunia raga, cipta, ripta, angkara, ingsun dan rasa ingin menguasai atau murka, terpaksa masih digunakan sebatas keperluan sebagai sarat hidup manusia.

(fungsi hawa nafsu: Nafsu amarah berguna untuk mempertahankan nyawa, tanpanya manusia mudah mati, Nafsu Luwamah berguna untuk mempertahankan raga, tanpanya raga manusia akan rusak, Nafsu sufiah berguna untuk mempertahankan martabat dan kehormatan diri, tanpanya manusia tanpa harga diri, Nafsu mutmainah berguna untuk Manunggaling Kawula Gusti – melebur dalam Tuhan – bagaikan setetes air masuk ke dalam Samudra – hancur lebur tiada bekas.

Jika manusia mampu menguasai hawa nafsu dan keinginan diri bagikan Harjuna yang mendapat bimbingan Kresna. Tanpa Bimbingan pengarahan Allah manusia tidak bakalan bisa menyatu dengan Allah. Bimbingan Allah bisa secara langsung ataupun dengan cara lewat Wakil atau Mursyid. Yang langsung contohnya Nabi Khidir.)



Menu