Kata Bagawat bermakna Pangeran atau Tuhan, sedangkan Gita bermakna Gending atau lagu. Sehingga kata Bagawat Gita bisa dimaknai senandung atau musik irama Ketuhanan, yaitu senandung yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia yang teguh imannya dengan irama dan isi ajarannya yang bisa memberi pencerahan bagi jiwa manusia sempurna dan bisa memberi petunjuk kepada kesempurnaan hidup , baik lahir maupun batin.
Jalan tersebut dalam ajaran Agama Islam disebut “ Syiratal Mustaqiemu” Jalannya manusia sempurna, yaitu bagi manusia yang telah terbuka jiwanya, sehingga bisa menyaksikan kenyataan Dwi Tunggal yaitu Manunggaling Kawula Gusti, yang dengan demikian tidak akan pernah berpisah dengan Tuhannya, Allah yang Maha Kuasa, yang mengendalikan Jagat alit (Microcosmos) dan Jagat Agung (Macrocosmos).
Serat Bagawat Gita berisi uraian ajaran-ajaran Sri Bathara Kresna kepada Sang Harjuna ketika akan terjadi Perang Brata Yuda, dimana Harjuna tidak mau maju ke medan laga dikarenakan yang akan menjadi lawan dalam perang tersebut adalah para Saudara, sahabat dan para gurunya sendiri.
Beginilah keluhan dan tangisan Sang Harjuna: “ Wahai Sang Prabu, ketika hamba perhatikan di antara pihak Ngastina dan Pihak Pandawa, ada yang kaprenah Uwa, Paman, Eyang, Nak sanak, Keponakan, dan putu naksanak dari garis ibu dan dari garis ayah, para mertua, para sahabat dan para kenalan baik, para guru yang akan berperang dengan mengeluarkan semua kesaktian yang dimilikinya agar bisa menang di medan laga.
Sungguh hati hamba menjadi gelap, dan bingunglah jalan pikiran hamba. Bahu dan kaki hamba menjadi lemas tak berdaya. Mulut dan kerongkpngan hamba menjadi kering, merinding seluruh badan dan rambut hamba berdiri. Gendewa terlepas dari tangan, panas dan neratap seluruh kulit. Hamba tak mampu berdiri lagi. Bingung cipta dan ripta hamba”.
Masih banyaklah ucapan Sang Harjuna kepada Sri Bathara Kresna, yang pada akhirnya dengan suara yang terbata-bata, karena terlalu berat menanggung beban tekanan jiwanya sehingga Harjuna mengatakan: “Wahai Sang Prabu, hamba sungguh tidak akan tega dan hamba tak berdaya untuk berperang melawan saudara hamba sendiri, dan para sesepuh pinisepuh dan para guru hamba, lebih baik hamba sendirilah yang hancur lebur”. Pada akhirnya Harjuna membuang gendewanya serta jatuh tersungkur tak berdaya di dalam kereta perangnya.
Kepada yang sedang mengalami goncangan jiwa yang maha amat sangat berat, Sri Kresna memberikan ajaran-ajaran yang sangat banyak. Ajaran tersebut termuat di dalam Serat Bagawat Gita yang terbagi atas 18 bab, yang isinya menerangkan langkah-langkah yang berbeda-beda untuk bisa mencapai ilmu hakikat yang sempurna. Setelah menerima ajaran-ajaran dari Sri Kresna, Harjuna kemudian bangkit semangatnya, sehingga dengan mantap melangkah untuk menghadapi perang Brata Yuda.
Para pembaca, sesungguhnya perang Brata Yuda atau perang saudara adalah melam-bangkan perang di dalam diri manusia sejati guna untuk menghacurkan Angkara (egoisme) dan murka (hebzucht) yang ada dalam diri setiap manusia, agar nantinya dapat menjadi raja di dalam dirinya sendiri.
Adalah hal yang tidak aneh, pada umunya manusia tidak mempunyai niat untuk membunuh hawa nafsu serta angkara dan murkanya sendiri. Sebab, sesungguhnya manusia itu tidak boleh hanya mengutamakan kesenangan dirinya sendiri, dan yang seharusnya untuk menjaga keselamatan hidup bersama, jadi seharusnyalah manusia dalam melangkah dengan tanpa pamrih untuk dirinya sendiri dan tidak boleh hanya menuruti rasa kepuasan untuk dirinya sendiri di dalam hidup di dunia ini. Jadi, untuk apakah hidup di alam dunia ini ?.
Keadaan yang demikian akan dialami oleh setiap orang di dalam tumbuhnya (evolusi) jiwanya guna menuju pada kesempurnaan hidup. Pada suatu saat manusia akan mengalami bahwa semua keadaan di dunia ini serba tidak menyenangkan, dan tidak memuaskan, sehingga akan menumbuhkan pertanyaan di dalam bathin, “ Apa sih perlunya hidup di dunia ini? Sesungguhnya pertanyaan tersebut tidak bakalan akan medapat jawaban yang memuaskan dari siapapun juga di dunia ini. Manusia yang telah mencapai tingkatan evolusi jiwanya yang demikian, kemudian merasa gelap di dalam hatinya.
Semakin lama semakin terasa berat beban hidupnya. Hidup di dunia bagi dirinya terasa sebagai siksaan yang tiada habisnya. Hanya dengan kasih sayang dari Tuhan-lah, diri yang demikian pada akhirnya akan mendapat pencerahan langsung dari Sang Guru Jati, yaitu Allah yang Maha Murah, Maha Asih, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana yang menjadi sumber dari segala yang ada.
Keadaan jiwa manusai yang tergambar di atas, di dalam Serta Bagawat Gita dilambangkan oleh keadaan Harjuna pada saat akan menghadapi perang Brata Yuda. Dirinya berdiri di atas kereta perang, dikusiri oleh Sri Kresna di tengah-tengah medan laga Kuru Setra dengan memperhatikan siapa saja yang akan menjadi lawan tanding dalam perang pupuh nantinya.
Manusia yang telah mendapatkan pencerahan dari Tuhan, dan kemudian telah juga mengerti untuk apa sesungguhnya hidup ini, tentu tidak akan menghindar untuk menjalankan apa saja, baik berat ataupun ringan di dalam hidupnya di alam dunia ini. Sebab, dirinya telah mengerti bahwa manusia itu sesungguhnya hanya sebatas menjalankan titahnya Pangeran dan sesungguhnya Pangeran itu selalu melindungi dirinya.
Demikian juga Harjuna, setelah menerima penjelasan dari Sri Kresna, lewat wiridan-wiridan yang termuat di dalam Serat Bagawat Gita, harjuna kemudian bersedia maju ke medan laga guna untuk melenyapkan para saudaranya serta para gurunya sendiri yang menjadi lambang ibarat kesanggupan manusia untuk menghancurkan hawa nafsu serta angkara dan murkanya sendiri. Sesungguhnya semua kenikmatan hidup di dunia ini tak berarti apa-apa dibanding dengan kenikmatan hidup Manunggal Menyatu dengan Pangeran.