Cerita Maha Barata dan Cerita Padhalangan


II. Cerita Maha Barata dan Cerita Padhalangan

Cerita Maha Barata di tanah jawa mengalami perubahan yang sangat mencolok, setelah digubah menjadi cerita padhalangan dikarenakan : Pengaruh Agama Islam.

Yang kemudian menimbulkan keyakinan bahwa para Pujangga Jawa atau para Ahli Filsafat Jawa, lebih dalam pemikirannya mengenai cerita Maha Barata dibanding dengan para ahli Filsafat dari India (Filsafat India bisa dipelajari dari buku Indian Philosophy – oleh – Radha Krishnan.

Dari mana timbulnya keyakinan seperti itu ?. Di dalam cerita Maha Barata yang asli, yang ada pertama kali adalah Sang Hyang Brahman. Di dalam cerita Padhalangan, yang ada pertama kali adalah Nabi Adam yang keduanya sama-sama mempunyai anak turun yaitu Para Dewa atau Para Jawata.

Malah menurut Padhalangan Nabi Adam – Manusia – Setelah menurukan Nabi Sis, Sang Hyang Nur Rasa dan Sang Hyang Nur Cahya, kemudian menurun-kan Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang yaitu Allah Yang Maha Esa dan Allah Yang Maha Kuasa!. Apabila hanya diterima apa adanya saja, perubahan di dalam cerita Padhalangan kelihatannya tidak masuk akal sama sekali. Secara akal, mana mungkin manusia (Adam) mempunyai anak – Allah yang bersifat Maha Esa dan Maha Kuasa itu ?.

Tapi ketahuilah, bahwa kata Adam apabila ditulis menggunakan harufu Arab adalah Ain, Dhal dan Mim yang bermakna Satu atau Esa tanpa awal dan akhir, tanpa wujud dan tanpa warna. Jadi, sesuatu yang tidak bisa digambarkan oleh akal budi-nya manusia. Kiranya makna kata Adam yang demikian ada hubungannya dengan arti kata Belanda yaitu Adem yaitu pernafasan. Nafas atau hidup dan kata Atma yaitu hidup murni di dalam Ajaran Agama Hindu.

Menurut para ahli sufi ataupun para ahli filsafat jawa, Adam itu mempunyai sifat-sifat makdum azali dan abadi. Artinya makdum adalah awal tanpa ada yang mengawali. Azali artinya sumber dari segala yang ada, dan Abadi yang berarti langgeng tanpa awal dan tanpa akhir, yaitu Allah sendiri.



Menu