VI Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian IV.
Cerita Kehidupan Keturunan Abiyasa, Sebagai Lambang Evolusi Manusia, sampai dengan Kedewasaan Jiwanya, Pada Saat Manusia Mempunyai Niat Yang Kuat Untuk Berjuang Menuju Kesempurnaan Hidup.
Setelah menerangkan asal usul manusia (Microcosmos), yang berasal dari Tuhan, kemudian Sang Viyasa atau Abiyasa, meneruskan karangannya yaitu Serat Maha Barata, dengan jalan merenungi keadaan dalam dirinya sendiri (jiwanya sendiri). Bahwa sesungguhnya di dalam jiwa setiap manusia ada dua unsur.
Unsur yang pertama selalu mengajak pada kebaikan. Sedangkan unsure yang kedua selalu mengajak pada kejahatan. Manusia juga diberi kemampuan untuk bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan yang dalam Ajaran Agama Islam disebut “Al Furqan” dalam Bahasa Jawa disebut “Traju Panimbang”.
Keadaan jiwa manusia seperti tersebut di atas, dalam Serat Maha Barata dilambangkan dalam cerita, bahwa Abiyasa mempunyai anak tiga, yaitu:
1. Drestharata lambang dari suara batin tiap manusia yang selalu mengajak pada kejahatan, Drestharata itu buta sehingga tidak bisa mengerti kebaikan.
2. Pandhu lambang dari suara batin tiap manusia yang selalu mengajak pada kebaikan.
3. Yama Widura lambang dari Traju Panimbang antara Kebaikan dan Kejahatan yang berada dalam suara batin tiap manusia.
Anak tiga tersebut, yang dua yaitu Drestharata dan Pandhu lahir dari Garwa Padmi. Sedangkan yang ragil yaitu Yama Widura lahir dari Garwa Selir. Ini mengandung maksud bahwa adanya kebaikan dan kejahatan sesungguhnya berasal dari atas, sebab telah menjadi kodrat dari kehidupan.
Di muka telah diterangkan bahwa Nabi Adam dan Babu Kawa turun ke dunia dikarenakan berani makan buah kebaikan dan kejahatan. Sebaliknya Yama Widura anak dari Garwa Selir. Ini mengandung arti bahwa pertimbangan antara kebaikan dan kejahatan tumbuh karena pengalaman dalam kehidupan di alam dunia ini.
Anak-anak dari Abiyasa semuanya cacat. Yang anak pertama telah diterangkan bahwa Drestharata buta, yang pada intinya bahwa Drestharata adalah buta terhadap kebaikan. Seterusnya Pandhu cacat thengeng. Pandhu dalam setiap tindakan apa saja, selalu berupaya untuk keselarasan antara Cipta (Perasaan) yang terletak di Jantung dan Ripta (Pikiran) yang terletak di otak. Garis yang menghubungkan antara otak dan jantung adalah tidak tegak lurus, kenyataannya adalah miring.
Inilah yang dimaksud dengan keadaan Pandhu yang cacat thengeng. Sedangkan Yama Widura cacatnya adalah lumpuh. Traju panimbangan antara kejahatan dan kebaikan bisanya hanya membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Akan tetapi tidak ikut-ikut dalam menentukan mana yang harus di pilih atau yang mana yang harus dikerjakan. Sehingga Yama Widura dalam perang Brata Yuda tidak memihak Pandhawa ataupun Ngastina.
Diceritakan bahwa Drestharata mempunyai anak sebanyak seratus orang, yang kebanyakan mempunyai nama awalan Dur, seperti Duryudana, Dursasana, Durmuka, Durbala, dan seterusnya; Dur mempunyai arti kejahatan. Drestharata buta mengandung maksud buta terhadap kebaikan, yang bisa menimbulkan perbuatan jahat jumlahnya amat sangatlah banyak sekali.
Pandhu putranya hanya lima, tiga anak dari Dewi Kunthi dan dua anak dari Dewi Madrim. Anak tiga dari Dewi Kunthi sesungguhnya, yang satu yaitu Yudhistira (Punthadewa) adalah anak dari Bathara Darma. Yang satu lagi, Bima (Werkudara), sesungguhnya anak dari Bathara Bayu, dan yang satu lagi, yaitu Harjuna sesungguhnya adalah anak dari Bathara Indra.
Yudhistira sesungguhnya sebagai lambang dari hidup yang tidak bersentuhan dengan kematian. Sehingga Yudhistira mempunyai keraton yang bernama Amarta, yaitu jaman kelanggengan (hidup abadi). Yudhistira adalah Atma-nya manusia, Jagad kecil, sebagai pembanding dari Nabi Sis pada Jagad besar.
Bima sebagai lambang Budi yang ada dalam jiwa manusia, sebagai pembanding Sang Hyang Nur Rasa pada jagad besar. Sedangkan Harjuna adalah sebagai lambang manas atau akal, sebagai pembanding Sang Hyang Nur Cahya pada jagad besar.
Dua anak dari Dewi Madrim, Nakula dan Sahadewa, sesungguhnya adalah anak dari Dewa Kembar yang bernama Aswin. Nakula sebagai lambang dari Raga manusia. Na bermakna wujud, dan Kula bermakna aku. Sehingga Nakula bermakna Wujudku, yaitu Ragaku. Nakula sebagai raga dari setiap manusia (Jagad Alit) sebagai pembanding Ismaya (Semar) pada jagad besar.
Kemudian Sahadewa sebagai lambang Lingga dari badan, yang menyebabkan rasa yang menguasai kulit, daging, dan seluruh bagian raga yang lainnya, yang ikut oncat meninggalikan raga ketika manusia meninggal dunia. Sahadewa sebagai pembanding Manikmaya pada jagad besar.
Madrim sama maknanya dengan Mater (latin), Mutter (Jerman) dan Moeder (Belanda). Madrim sebagai lambang Ibu Pertiwi, yaitu bumi yang kita injak ini. Ketika manusia meninggal dunia, raga akan pulang kembali kepada asal mula kejadianya yaitu Bumi ini.
Sampai di sini telah lengkaplah para peraga pokok di dalam Serat Maha Barata. Ketahuilah. Negara Astina dalam Serat Maha Barata atau dalam cerita Padhalangan, menjadi lambang dari Jagad kecil. Perselisihan yang tiada habis-habisnya antara Kurawa Ngastina dan Kurawa Pandawa, berebut kekuasaan dalam Negara Astina, ini menjadi lambang perang antara kebaikan dan kejahatan untuk bisa menguasai Jagad Kecil.
Agar lebih jelas dalam menghayati bahwa begitu dalamnya isi dari Cerita Padhalangan, untuk itu perlu kami jelaskan juga bahwa:
Pada saat masa kecilnya yaitu masa kanak-kanak, anak dari Drestharata dan anak-anak dari Pandhu, hidup bersama yang bertempat di Kraton Astina.
Ini menunjukan bahwa pada awalnya manusia belum mengetahui apa bedanya kebaikan dan kejahatan. Di sini Kraton Astina sebagai lambang dari raga.
Asti yang berarti Gajah, mempunyai watak sepuluh, selaras dengan kepercayaan Bangsa Hindu bahwa dunia ini dijaga oleh gajah yang berjumlah sepuluh. Yang rinciannya adalah di sebelah Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Atas (Zanith) dan Bawah (Nadir).
Lengkap sepuluh. Sehingga kata Astina Pura mempunyai arti sebuah kota yang mempunyai gapura sebanyak sepuluh buah. Ini sesungguhnya adalah sebagai lambang setiap raga manusia.
Pada umumnya jumlah lobang dalam raga manusia hanya dianggap Sembilan jumlahnya (nutupi babahan nawa sanga). Sesungguhnya adalah salah hitung, sebab lobang kelamin manusia sebetulnya adalah dua yaitu jalannya mani dan jalannya urine, akan tetapi hanya dihitung satu.
Para anak dari Drestharata dan Pandhu yang sama-sama tinggal di Kraton Astina pada saat masih berumur kanak-kanak, di didik oleh tiga orang guru, yaitu:
1. Bagawan Krepa
Ceritanya adalah, Krepa tercipta dari rumput, yang tumbuh karena dari mani salah satu Pandhita yang jatuh ke dalam tanah. Oleh karena pohon padi termasuk jenis rerumputan, sehingga Krepa bisa sebagai lambang dari Pohon Padi, beras, ataupun makanan.
Selain dari itu Ngrepa dalam bahasa jawa bisa bermakna mencari makanan ke dalam hutan, yang berupa akar-akaran ataupun dedaunan dan juga buah-buahan.
Ini sebagai isyarat bahwa salah satu tujuan dari pendidikan awal untuk semua makhluk hidup tidak lain adalah mengajarkan agar bisa mencari makanannya sendiri. Dalam masa sekarang untuk pendidikan anak, agar anak bisa mengurus keperluannya sendiri atau menjadi anak yang mandiri.
2. Pandhita Durna
Yang betul adalah Drona, terbawa dari saat lehirnya yaitu di dalam Jun (wadah) atau Drona. Nama Kumbayana juga sama maknanya. Kumba yang berarti Klenthing, Klenting atau Jun sebagai lambang dari ruangan di dalam kepala sebagai tempat otak manusia. Pandhita Durna sebagai lambang dari Ripta atau pikiran manusia.
Durna adalah anak dari Bagawan Baratmaja di Negara Atas Angin. Baratmaja atau Barat Atmaja, ini berarti anaknya angin, sehingga Durna adalah cucu dari angin, halusnya sangatlah halus. Tumbuhnya akal adalah dari bergeraknya pikiran. Sehingga Harjuna (Akal) akan digerakan oleh Durna (Pikiiran) sehingga Harjuna adalah siswa kesayangan Pandhita Durna.
Harjuna adalah ahli memanah (manah dalam bahasa jawa bermakna hati – memanah – menata hati untuk menuju kebaikan. Orang jawa dalam berfikir mampu mencari makna di balik kata sampai beberapa tingkat, logika fikiran jawa sangatlah tinggi.
Contoh: Apabila ada huruhara, pikiran pertama akan bertanya saiapa dalangnya pikiran tingkat dua, bukan hanya dalangnya saja yang dipikir, akan tetapi siapakah yang nanggap Pikiran tingkat tiga, untuk keperluan apakah nanggap itu dst, sampai ditemukan inti masalah yang sesungguhnya orang jawa bilang alon-alon asal klakon).
Dari ketiga cara guru dalam mengajarkan ilmu yang tersebut di atas bisa dibandingkan dengan Sistem Pendidikan Karakter , yang sedang digalakan dalam sitem pendidikan awal di Indonesia saat ini. Lebih sempurna lagi bila di tambah dengan system pendidikan Budhi Pekerti layaknya Harjuna yang pandai memanah (pandai menata hati).
Tokoh lainnya yang perlu dimengerti maknanya agar lebih mengena dalam memahami ajaran serat Maha Barata yang tersamar, antara lain:
1. Sangkuni atau nama lainnya Haria Suman.
Sangkuni sebagai lambang watak berhati-hati, ragu-ragu dan penakut.
2. Karna sebagai lambang Angkara.
Asal kata angkara dari ahang = aku dan kara = gawe, atau yang menyebabkan. Jadi angkara adalah yang menimbulkan rasa egois (atau rasa kesadaran akan diri sendiri). Dalam cerita, Karna lahir dari telinga Dewi Kunthi, sebelum Kunthi menikah dengan Pandhu.
Manusia bisa mengerti bahwa dirinya punya nama A atau B yang menyebabkan kesadaran diri sebagai aku yang membedakan dengan aku-aku yang lain disebabkan karena mempunyai telinga. Timbulnya amarah bisanya dari suara. Gathotkaca sebagai lambang suara matinya dibunuh oleh Karna lambang telinga. Sehingga tepatlah bahwa Karna menjadi lambang dari Nafsu Angkara.
3. Prabu Salya Sebagai lambang pribadi atau Ingsun (kumingsun) atau individualitas.
Terjadinya Angkara adalah dari berkumpulnya Raga, Cipta (perasaan) dan Ripta (pikiran). Sehingga Karna juga sebagai murid kesayangan guru Drona yang pandai. Ingsun (kumingsun) yang mempunya raga, cipta dan ripta. Sesungguhnya Angkara adalah sebagai bayangan dari Ingsun, karena Karna adalah menantu dari Prabu Salya.
4. Sri Kresna artinya hitam.
Hitam itu gelap, yaitu sesuatu yang gelap atau tidak bisa dimengerti oleh akal budi manusia. Sehingga Kresna adalah sesuatu yang Gaib. Sesungguhnya Kresna adalah Pangeran yang bersemayam di dalam pusat bathin manusia, yaitu di dalam Qolbu atau jantung. Sehingga Kresna mempunyai keraton yang bernama Dwarawati.
Arti dari kata Dwara sama dengan kata Ingris Door atau kata Belanda Deur, yang bermakna pintu. Kresna bersemayam di Dwarawati bermakna Pangeran bersemayam dalam Qalbu atau jantung manusia, yaitu manusia yang telah dibuka pintu hatinya oleh Tuhan sehingga menjadi manusia binangun, atau manusia pilihan.
Ada kata-kata dalam serat Wedhatama yang berbunyi: Bathara Gung ing uger graning jejantung, jenak Hyang Wisesa sana pasenetan suci, dst. Yang artinya: Bathara Gung (Gusti Allah Yang Maha Agung) bersemayam di pucuk jantung.
Taman panglipuran yang Maha Wisesa, tempat persembunyian yang suci, dst. Kenyataan bahwa Pangeran bersemayam di dalam Qolbu manusia, sesuai dengan Q.S. VIII, ayat 24, diantaranya menyebutkan: Wa a’lamu anna Allahu yahulu baina al mar, wa qalbihu, yang kurang lebih bermakna dan ketahuilah bahwa Allah berada dalam diri manusia, yaitu dalam jantungnya.