Ia berusia 4.500 tahun. Perawakannya amat tinggi, sampai-sampai air bah yang mengaramkan gunung-gunung paa zaman Nabi Nuh a.s. pun tiada sampai melintasi lututnya. Konon, ketika banjir tersebut, ia mendaki gunung membenamkan tangnnya, menciduk ikan dan menggorengnya di terik matahari.
Jika membenci suatu negeri, ia cukup mengencinginya hingga meneggelamkan penduduknya. Dikala Nabi Musa a.s. ada di negara Tih, ‘Iwaj bermaksud jahat ingin mengahcurkan seluruh jiwa yang ada di situ. Untuk itu, terlebih dahulu ia mencari dan mengintai tempat pemukiman Musa a.s. dan tentaranya, utnuk dikethui seberapa dan bagaimana kekuatan mereka.
Setelah berhasil menemukan tempat Nabi Musa a.s. beserta tentaranya di sebuah lokasi sejauh kurang lebih 1 farsakh (8 km), ia menjebol sebuah batu (gunung) untuk ditimpakan kepada mereka. Namun Allah swt. mengutus burung Hud-Hud melempar sebongkah batu untuk memecahkan batu gunung yang sedang dijunjungnya itu. Akhirnya pecahlah batu itu menimpa lehernya hingga ia terluka, jatuh terkulai tiada berkutik.
Ddalam riwayat lain, disebutkan bahwa tinggi badan Nabi Musa a.s. sama dengan panjang tongkatnya, yakni empat puluh hasta. Sambil melompat sejauh empat puluh hasta pula, ia memukul ‘Iwaj dengan tongkatnya dan mengenai mata kakinya. Waktu itulah, ‘Iwaj tersungkur tak bernyawa.
Maut adalah pintu nanpasti
Setiap insan pasti memasuki
Aduhai kiranya kutahu
Di sana tempatku surga abadi
Karena amal diridhai Ilahi
Atau Neraka
Lantaran aku menentang-Nya
Bagi setiap insan
Hanya uda ini, tiada lagi
Pandang dan renungi dirimu
Mana tempatmu