Kondisi Mekah di Masa Paganisme


Dakwah Nabi Ibrahim as. pada dasarnya adalah babak baru dalam sejarah penyebaran akidah tauhid. Meski begitu, Nabi Ibrahim as. bukanlah yang pertama mendakwahkan akidah Tauhid. Dia adalah nabi pertama yang menyatukan akidah-akidah samawi hingga seolah-olah tampak sebagai akidah baru. Inti dari tauhid yang didakwahkan Nabi Ibrahim as. adalah iman kepada Allah Yang Maha Tinggi dari raja-raja yang ada di bumi dan semua makhluk adalah sama di sisi-Nya.

Namun, di masa kekuasaan Khuza’ah atas Ka’bah, akidah tauhid yang didakwahkan Nabi Ibrahim as. mengalami kemunduran yang sangat parah, terutama karena virus paganisme. Bangsa Arab menjadi begitu bodoh (Jahiliah) memahami hakikat pengorbanan yang diajarkan Nabi Ibrahim as., menjadi persembahan saji-saji pada berhala-berhala. Memang, ketika itu Jahiliah adalah keniscayaan yang tak dapat dicegah. Dan, tanpa Jahiliah bangsa Arab tidak akan pernah sadar akan kesesatan mereka.

Seiring berjalannya waktu, agama Nabi Ibrahim as. pun mulai terlupakan dan pengagungan terhadap Ka’bah sirna. Diganti dengan era penyembahan berhala atau paganisme. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa awal mula bercokolnya paganisme di tanah Arab—sebelum akhirnya Ka’bah dipenuhi berhala oleh Amru bin Luhai—adalah ketika batu-batu gunung berapi yang jatuh ke Baitullah dianggap bintang-bintang dan langit. Mulai saat itu Tuhan-tuhan berhala menjadi begitu diagungkan, hingga kemudian disembah. Di era ini pula, Hajar Aswad mulai menjadi Tuhan baru.

Lebih dan itu, mereka meyakini bahwa semua batu yang berasal dan sekitar Ka’bah atau Tanah Haram bisa menjadi Tuhan untuk kemudian dibawa ke masa saja. Selain disembah, batu itu dimintai pendapat tentang hari baik bagi seseorang untuk melakukan perjalanan. Berbagai sesaji dan ritual pun dipersembahkan pada batu-batu tersebut. Setelah itu, penyembahan berhala mulai mengakar di tanah Arab serta kurban-kurban dipersembahkan padanya.

Paganisme tumbuh di Jazirah Arab seiring dengan pengagungan mereka terhadap fenomena alam. Ketika itu, bangsa Arab rela melakukan apa saja untuk membahagiakan benda-benda alam—dengan menyembahnya atau memberi sesaji— agar tetap memberi manfaat dan kebaikan pada mereka. Orang-orang Arab meyakini bahwa hidup mereka tergantung pada benda-benda tersebut. Maka, berbagai macam bentuk benda mulai dijadikan sesembahan, baik itu berupa pepohonan atau bebatuan yang diukir dalam bentuk manusia dan hewan. Ada juga sesembahan yang tidak berbentuk karena dianggap simbol kekuatan alam. Selain itu, mereka juga melakukan thawaf, mengeliingi sesembahan itu. Mereka membawa “Tuhan” mereka pada saat berdagang dan aktivitas lain, kemudian menjadikan tempat diletakkannya sesembahan atau Tuhan itu sebagai “tanah haram”.

Menyembah dan mempersembahkan kurban pada patung yang paling besar saja—yakni Hubal—tidaklah cukup bagi mereka. Sehingga, kebanyakan dan mereka memiliki patung di rumah. Mereka akan thawaf mengelilingi patungnya atau tuhannya sebelum keluar rumah dan setelah kembali. Ketika hendak melakukan perjalanan, mereka minta izin pada patung tersebut.

Mereka meyakini bahwa semua patung itu—baik yang ada di Ka’bah atau di tempat-tempat lain di negeri Arab, begitu juga yang ada pada suku-suku mereka—adalah perantara antara hamba dengan Tuhan yang Maha Mulia. Bangsa Arab beranggapan bahwa menyembah berhala adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Padahal, ibadah kepada Allah swt. telah mereka tinggalkan dan beralih pada penyembahan berhala.

Sebenamya, ketika itu bangsa Arab sadar bahwa menyembah berhala tidak sesuai dengan risalah kenabian atau yang didakwahkan Nabi Ibrahim as. Tapi, mereka begitu setia pada budaya pagan yang turun-temurun dari nenek moyang mereka. Sehingga mereka menyebut keyakinan mereka itu dengan agama nenek moyang (diyanatul aba’ wal ajdad).

Bangsa Arab memang bangsa yang adat-istiadatnya berkiblat pada adat-istiadat nenek moyang mereka. Zaman Jahiliah adalah zaman dimana mereka begitu kuat memegang adat-istiadat nenek moyang mereka tanpa berusaha mencari hakikat kebenaran adat-istiadat tersebut.

Allah swt. berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 52-54, “(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sebab apa pada patung-patung (tamatsil) ini kamu tekun menyembahnya?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.’”

Tamatsil (patung-patung) pada ayat di atas semakna dengan ashnam yaitu batu atau benda lain yang dipahat dan dibentuk dengan bentuk-bentuk tertentu. Pada umumnya, bangsa Arab menggunakan istilah tamatsil atau ashnam untuk setiap benda yang dibuat untuk sesembahan. Hanya saja mereka dapat membedakan benda-benda yang dimaksud oleh kedua lafazh tersebut. Seperti, sebagian dari mereka berkata bahwa anshab adalah batu-batu yang ditegakkan untuk disembah. Ada juga yang berkata bahwa kata anshab sama dengan ashnam karena sama-sama berarti sesuatu yang ditegakkan untuk disembah baik dibentuk atau tidak dibentuk.